ketika keadaan mengharuskan Kita untuk menangis, tak usah berpura, menangislah. Tak semua airmata berarti lemah

YAYASAN BUDHA TZU CHI INDONESIA


YAYASAN BUDHA TZU CHI INDONESIA


setiap detik berjuang demi kebajikan


Dengan berpegang teguh pada semangat (kebersamaan dalam sepenanggungan dan sependeritaan) Sang Buddha, Tzu Chi menjalankan bakti sosialnya selama 43 tahun. Tzu Chi menampung semua orang dengan usia, pengetahuan, profesi, agama dan latar belakang yang berbeda dapat membuktikan kekuatan dari sirkulasi kebajikan, dapat ikut bergabung ke dalam barisan (memberikan kasih sayang), dan merasakan kepuasan dari implementasi sikap "melakukan dengan ikhlas dan menerima dengan sukacita". Baik yang berada di setiap pelosok Taiwan, atau yang berada di kediamannya di luar negeri, semua insan Tzu Chi selalu dengan senang hati dan tanpa menyesal, berpartisipasi dalam berbagai kegiatan pemberian bantuan kemiskinan dan darurat, perlindungan kesehatan, memperkokoh dasar pendidikan dan kegiatan sosial budaya.

Andaikan uluran tangan insan Tzu Chi ini dapat menyucikan hati manusia, menyejahterakan masyarakat, menjauhkan segala bencana dan dunia menjadi damai dan tenteram, itulah harapan terbesar dari insan Tzu Chi.

Dalam perjalanannya menyebarkan cinta dan welas asih, pada tahun 2003, tim medis Tzu Chi telah berhasil mengadakan operasi pemisahan bayi kembar siam perempuan. Bayi kembar siam Filipina Daai (cinta kasih) dan Gan en (bersyukur) telah berhasil dipisahkan dengan sukses dan dapat menjalankan kehidupan masing masing. Setelah keluar dari rumah sakit, perawatan selanjutnya telah diambil alih oleh TIMA (Tzu Chi International Medical Association) Filipina. Orangtua mereka di bawah bimbingan insan Tzu Chi juga telah menjalankan kehidupannya sehari-hari kembali. Ini merupakan akhir sebuah kisah menarik dari sebuah (estafet cinta kasih) lintas negara.

Sedangkan di Indonesia, demi program lanjutan dari rencana pemindahan penduduk bantaran kali Angke yang terkena program normalisasi Kali Angke, telah berhasil menggalang rasa solidaritas cinta kasih para pengusaha dan masyarakat. Hanya dalam waktu singkat selama 1(satu) tahun, telah berhasil menyelesaikan pembangunan Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi yang terdiri dari 1.100 unit rumah. Di dalam kompleks perumahan tersebut terdapat fasilitas-fasilitas seperti: sekolah, rumah sakit, industri rumah tangga, dan berbagai sarana penunjang lainnya.

Para warga telah pindah dari bantaran kali yang kumuh dan jorok ke Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi, menyambut masa depan mereka yang penuh harapan. Hal ini membuat semua orang merasa gembira. Para relawan Tzu Chi dan pengusaha di Indonesia juga telah mendapatkan saluran untuk membalas budi mayarakat Indonesia, dapat merasakan kepuasan batin telah dapat berdana secara langsung melalui tangan sendiri. Sebuah kali ternyata telah menjalin sebuah kisah yang sangat menyentuh. Sungguh sebuah keajaiban. Semuanya ini harus kita telusuri dari Dunia Tzu Chi yang dibangun oleh Master Cheng Yen.


Master Cheng Yen, Pendiri Tzu Chi




Master Cheng Yen dilahirkan pada tanggal 14 Mei 1937, di Desa Qingsui, Kabupaten Taichung, Taiwan. Sewaktu masih kecil, beliau diangkat pamannya menjadi anak dan menetap di Desa Fengyuan, Taichung bersama paman dan bibinya. Ayah angkatnya memiliki usaha bioskop di beberapa kota, seperti Taichung, Feng Yuan, Qingshui, Tanzi, dan tempat lainnya. Sebagai putri sulung, dan juga otaknya yang cerdas, maka meski belum genap berusia 20 tahun, beliau sudah sanggup membantu pekerjaan ayahnya, disamping juga membantu mengurus pekerjaan rumah tangga.


Sejarah Tzu Chi


Pendiri Tzu Chi, Master Cheng Yen dilahirkan pada tanggal 14 Mei 1937 di Chingsui, Taiwan bagian tengah. Wafatnya sang ayah di tahun 1960 menjadikan beliau memahami bahwa hidup ini hanyalah sementara dan selalu berubah. Sejak saat itu beliau mulai mempelajari agama Buddha secara lebih serius sebelum akhirnya menjalani hidup sebagai bhiksuni pada tahun 1964.

Suatu hari di tahun 1966, Master Cheng Yen bersama beberapa pengikutnya datang ke suatu balai pengobatan di Fenglin untuk mengunjungi salah seorang umat yang menjalani operasi akibat pendarahan lambung. Ketika keluar dari kamar pasien, beliau melihat bercak darah di atas lantai tetapi tidak tampak adanya pasien. Dari informasi yang didapat diketahui bahwa darah tersebut milik seorang wanita penduduk asli asal Gunung Fengbin yang mengalami keguguran. Karena tidak mampu membayar NT$ 8.000 (sekitar Rp 2,4 juta), wanita tersebut tidak bisa berobat dan terpaksa harus dibawa pulang.


Inilah tempat Master Cheng Yen membina ajaran Buddha dan hidup prihatin di tahun itu, sekaligus merupakan tempat asal berkembangnya Dunia Tzu Chi sekarang.

CATATAN:

Peristiwa bercak darah yang menimpa wanita pribumi bernama Chen Qiu Yin yang dikarenakan tidak mampu membayar NT$ 8,000 (Delapan ribu dollar) lantas tidak dapat berobat, apakah NT$ 8,000 itu adalah biaya pengobatan, uang jaminan atau uang muka? Setelah peristiwa itu, keterangan yang dikumpulkan dari beberapa pihak tidak seragam, berdasarkan salah seorang anggota keluarganya bernama Chen Wen Qian yang mengantar Chen Qiu Yin berobat pada saat itu pernah menuturkan secara terbuka kepada umum bahwa uang yang dimaksud itu adalah uang jaminan, kabar yang diperoleh Master juga sama yaitu uang jaminan, lagipula Li Man Mei, orang yang langsung berbicara dengan pasien dan pribumi lainnya di tempat peristiwa pada waktu itu (di tahun itu) telah beberapa kali menyelidiki dan mengemukakan hal serupa yaitu uang jaminan, namun pernah juga sekali dia hanya menyebutkan NT$ 8,000 dan tidak menyinggung uang jaminan. Dalam putusan kasus perdata, disimpulkan Li Man Mei menerangkan kepada Master bahwa karena pasien tidak mempunyai uang sebanyak NT$ 8,000 sehingga pergi meninggalkan Rumah Sakit merupakan suatu kenyataan, juga mengakui bukti bercak darah memang ada keberadaannya. Kasus ini diakhiri atas pilihan Tzu Chi untuk tidak mengajukan pengaduan naik banding.

Mendengar hal ini, perasaan Master Cheng Yen sangat terguncang. Seketika itu beliau memutuskan hendak berusaha mengumpulkan dana amal untuk menolong orang dan menyumbangkan semua kemampuan yang ada pada dirinya untuk menolong orang yang menderita sakit dan kemiskinan di Taiwan bagian timur.

Karena ada jalinan jodoh, di saat itu kebetulan sekali tiga orang suster Katolik dari Sekolah Menengah Hualien datang berkunjung untuk menemui Master Cheng Yen. Suster bertanya, "Agama Katolik kami telah membangun rumah sakit, mendirikan sekolah, dan mengelola panti jompo untuk membagi kasih sayang kepada semua umat manusia, walaupun Buddha juga menyebut menolong dunia dengan welas asih, tetapi mohon tanya, agama Buddha mempersembahkan apa untuk masyarakat?" Kata-kata ini sangat menyentuh hati Master Cheng Yen. Sebenarnya waktu itu umat Buddha juga menjalankan kebajikan dan beramal, namun tanpa mementingkan namanya. Dari situ membuktikan bahwa semua umat Buddha memiliki rasa cinta kasih yang dalam, hanya saja terpencar dan kurang koordinasi serta kurang terkelola. Master Cheng Yen bertekad untuk menghimpun potensi ini dengan diawali dari mengulurkan tangan mendahulukan bantuan kemanusiaan.


Cikal Bakal Tzu Chi Dimulai dari Celengan Bambu

Kegiatan kemanusiaan Tzu Chi untuk kaum fakir miskin diawali dari 6 ibu rumah tangga yang setiap hari, masing-masing individu, merajut sepasang sepatu bayi. Di samping itu, setiap anggota diberi sebuah celengan bambu oleh Master Cheng Yen, agar para ibu rumah tangga setiap pagi sebelum pergi berbelanja ke pasar, menghemat dan menabung 50 sen ke dalam celengan bambu. Dari 30 anggota bisa terkumpul 450 dolar setiap bulan, ditambah hasil pembuatan sepatu bayi 720 dolar, maka setiap bulan bisa terkumpul sebanyak 1.170 dolar sebagai dana bantuan untuk kaum fakir miskin.

Kabar ini dengan cepat tersebar luas ke berbagai tempat di Hualien, dan orang yang ingin turut bergabung semakin banyak. Pada tanggal 14 Mei 1966, Yayasan Kemanusiaan Buddha Tzu Chi secara resmi terbentuk.

Pada awal masa pembentukan Yayasan Kemanusiaan Buddha Tzu Chi, Master Cheng Yen bersama para pengikut mengambil tempat sempit yang tidak lebih dari 20 m2 di Vihara Pu Ming, sambil berupaya menghasilkan produk untuk mendukung kehidupan, sambil mengurus jalannya organisasi. Pada musim gugur tahun 1967, ibunda Master Cheng Yen membelikannya sebidang tanah yang sekarang dimanfaatkan untuk bangunan Griya Perenungan. Walaupun demikian, Master Cheng Yen beserta para pengikut masih tetap mempertahankan prinsip hidup mandiri. Biaya perluasan seluruh proyek Griya Perenungan, selain mengandalkan pinjaman uang dari bank atas dasar hipotik hak kepemilikan tanah tersebut, juga dari hasil usaha kerajinan tangan





SUARA KASIH : MEWUJUDKAN TEKAD HIDUP



Mewujudkan Tekad Hidup


Menciptakan makna hidup dengan bersumbangsih
Bekerja dengan sukarela dan memperoleh sukacita
Mendengar dan mempraktikkan Dharma
Cinta kasih menciptakan dunia yang damai


Saya sering berkata bahwa pelatihan diri insan Tzu Chi meliputi ketulusan, kebenaran, keyakinan, dan kesungguhan. Kita harus menghadapi setiap orang dengan niat yang baik. Tulus berarti murni. Jadi, kita harus bersungguh-sungguh. Dengan hati yang penuh ketulusan dan kesungguhan, kita memerhatikan para korban bencana. Orang zaman dahulu berkata, “Ketulusan akan membuat langit tersentuh.” Singkat kata, dalam interaksi antarsesama, kita harus tulus dan bersungguh-sungguh.

Setiap kali melihat sumbangsih para insan Tzu Chi yang ditayangkan di Da Ai TV, saya merasa sangat bersyukur dan tersentuh. Sebagian orang berkata, “Tzu Chi sepertinya hanya menolong warga negara lain saja, apakah warga Taiwan sendiri juga diperhatikan?” Kita dapat melihat insan Tzu Chi di Taiwan bagian tengah yang mendatangi dan memerhatikan warga kurang mampu dan sakit. Saat terjadi musibah kebakaran, mereka juga segera menuju lokasi bencana. Di seluruh dunia ini, setiap hari kita dapat melihat sumbangsih insan Tzu Chi di mana pun mereka berada.

Adanya kehangatan dalam interaksi antarsesama di suatu masyarakat bukankah akan menciptakan keindahan? Bila hubungan antarmanusia sangat dingin, maka kehidupan di dunia ini tak ada maknanya. Karena itu, setiap orang hendaknya bertekad untuk selalu menolong dan memerhatikan sesama.

Belakangan ini, insan Tzu Chi Taiwan tengah mensosialisasikan pertobatan. Saya berharap semua insan Tzu Chi yang telah mendengar tentang kebenaran dapat menyelaminya dengan sungguh-sungguh. Kita tengah berusaha untuk menjadikan Taiwan sebagai ladang pelatihan agar semua orang dapat mendengar, menyelami, dan mempraktikkan Dharma dalam kehidupan sehari-hari. Semua orang harus bertekad untuk menjalankan keinginan ini. Contohnya seperti para dokter dan perawat yang bertekad dan mempersiapkan diri untuk menyelamatkan nyawa semua orang. Para tenaga medis ini senantiasa berjuang demi nyawa sesama. Mereka memanfaatkan kehidupan sendiri demi menyelamatkan hidup orang lain. Inilah misi yang mereka pahami dengan sangat jelas.

Dalam tayangan ini kita melihat beberapa wanita muda dari Sichuan, Tiongkok. Pada tanggal 12 Mei 2008 saat gempa dahsyat mengguncang Sichuan, mereka masih duduk di bangku sekolah menengah. Kini, mereka tengah menimba ilmu di Universitas Sichuan fakultas keperawatan dan akan segera menjadi perawat. Mereka bertekad menjadi perawat karena merasa sangat senang bila dapat menolong orang lain. Saat dapat menyembuhkan penyakit para pasien, mereka merasa sangat gembira. Bekerja keras tentu saja melelahkan, namun mereka memperoleh sukacita. Mereka bersumbangsih dengan sukarela dan memperoleh sukacita darinya.

Setiap kali melihat para insan Tzu Chi yang bekerja keras hingga seluruh tubuh dipenuhi debu, lumpur, dan keringat, saya selalu bertanya apakah mereka merasa lelah. Namun, apa yang selalu mereka jawab? Inilah dialog saya dengan para insan Tzu Chi yang penuh makna dan kebijaksanaan. “Saya melihat mereka bekerja keras, namun mereka dipenuhi sukacita. Tanpa tetesan keringat dari orang-orang yang bersedia bersumbangsih, orang tak akan bebas dari penderitaannya. Dengan bersumbangsih, hidup jadi bermakna. Melalui sumbangsih, kebijaksanaan hidup kita akan bertumbuh. Kebijaksanaan akan bertumbuh bila kita bersumbangsih bagi orang lain,” ucap para insan Tzu Chi.

Lihatlah para relawan di Yordania yang berada sangat jauh dari kita. Kita semua tahu bahwa sejak Februari atau Maret, Timur Tengah dilanda konflik berkepanjangan dan hingga kini masih terus berlangsung. Banyak negara dalam kondisi tak stabil, termasuk Yordania yang dikenal sebagai negara yang cukup damai. Pola pikir warga Yordania terpengaruh sehingga timbullah pertikaian dan masyarakat pun tak dapat hidup tenang. Pada bulan April saat mendengar kabar aksi demonstrasi yang dilakukan oleh para pengunjuk rasa, saya segera bertanya tentang kondisi warga setempat.


Karena itu, mereka pun sangat percaya pada perkataan insan Tzu Chi. Pertikaian tak membawa dampak baik bagi siapa pun, justru malah merugikan banyak pihak. Saya sering berkata bahwa cinta kasih dapat membangun kepercayaan.

Sementara itu di Filipina, budaya humanis Tzu Chi telah diterapkan dalam kehidupan warganya. Baksos kesehatan yang diadakan pada tanggal 1 Mei lalu di kompleks Tzu Chi menangani lebih dari 1.700 pasien. Kita tak perlu mengatur para pasien. Mereka tahu harus menuju ke arah mana dan mengantre dengan teratur. Inilah budaya humanis Tzu Chi yang mengajarkan mereka untuk tenang, sabar, dan taat pada aturan. Luar biasa, saya sungguh melihat kebajikan dan kebaikan setiap orang yang terlibat. Seragam apa pun yang mereka kenakan, baik biru, abu-abu, ataupun rompi relawan, semua bersumbangsih sepenuh hati.

Jadi, jika kekuatan setiap orang terhimpun, maka tujuan pasti akan tercapai. Hal ini dikarenakan kepercayaan mereka terhadap insan Tzu Chi yang telah bersumbangsih selama puluhan tahun. Mereka percaya akan niat baik insan Tzu Chi. Inilah interaksi yang penuh cinta kasih dan kontribusi yang penuh ketulusan. Banyak hal di dunia yang tak dapat terwujud karena kita kurang bekerja keras. Akhir kata, lihatlah dunia ini! Setiap hari ada banyak orang yang bersumbangsih bagi orang yang menderita. Sumbangsih mereka sungguh inspiratif dan penuh kehangatan.







Kisah Dibalik Tong Sampah Dapur


Sisa makan siang dari 250 ribu murid sekolah di Taiwan dalam setiap tahunnya ada sekitar 125 ribu ton, jika diisikan ke dalam tong sampah ukuran tinggi satu meter, dapat ditumpuk sampai setinggi 1.221 unit gedung bangunan 101 Taipei.

Sedangkan sampah dapur yang dibuang oleh setiap keluarga di Taiwan dapat ditumpuk sampai sebanyak 1.017 buah Puncak Everest. Ini belum termasuk sampah dapur dari sekolah dan restoran.


1. Tahun 2011 merupakan tahun puncak produksi bahan pangan dalam sejarah umat manusia, namun pada saat yang sama ada dua orang anak mati kelaparan dalam setiap lima detiknya.


2. Kemampuan produksi bahan makanan global cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan dari 1,7 kali populasi umat manusia, namun tetap saja terjadi “bencana kelaparan” di bumi ini. Hal ini karena sepertiga dari bahan makanan yang ada ternyata terbuang ke dalam tong sampah. Khusus untuk Taiwan saja, bahan makanan yang dibuang dalam masa setahun dapat ditumpuk menjadi 1.017 buah Puncak Everest.


3. Bahan makanan yang terbuang ke dalam tong sampah di seluruh dunia dalam setahunnya mencapai 1,3 milyar ton, cukup untuk mengelilingi bumi sebanyak 166 kali. Namun kenyataan pahitnya dalam setiap hari ada 30 ribu orang mati kelaparan.


4. Pada sebelah Selatan Gurun Sahara di Afrika ada 300 juta korban bencana kelaparan. Di India ada 230 juta orang menderita kelaparan, setara dengan sepuluh kali populasi Taiwan. Jika angka korban pada kedua wilayah ini dijumlahkan, akan mencapai separuh dari angka korban kelaparan global.


5. Menurut laporan FAO, 40% dari bahan makanan di negara maju dibuang ke dalam tong sampah. Jelasnya sebanyak 40% dari makanan setiap orang terbuang ke dalam tong sampah, jika sisa makanan ini dikumpulkan dalam setahun, akan cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan 4,2 milyar umat manusia.


6. Menurut data Dinas Lingkungan Taiwan, sampah dapur dari seluruh rumah tangga di Taiwan dalam setahun ada sekitar 2,75 juta ton, di antaranya ada sekitar 1,8 juta ton merupakan kulit buah-buahan, sayuran dan sisa makanan.


7. Jika dikonversikan dalam unit berat, 1,80 juta ton adalah setara dengan berat 4 milyar porsi makanan kotak. Jika dikonversikan dalam bentuk nilai uang akan mencapai NTD 25 milyar (Rp. 7,5 trilyun), cukup untuk memenuhi kebutuhan makanan bergizi bagi 230 ribu murid sekolah asal keluarga tidak mampu selama 20 tahun, mulai dari usia tingkat TK sampai tingkat S3. Jika dikonversikan dalam jumlah orang, cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan bagi 5,5 juta warga Haiti selama satu tahun penuh.


8. Sampah dapur sebanyak 1,80 juta ton ini masih belum termasuk sampah dapur dari restoran, sekolah dan pasar.


9. Foodsolution dari Perusahaan Unilever Taiwan pernah mengadakan riset, diperkirakan sisa makanan yang dibuang oleh semua restoran di daerah Taipei dalam setahun mencapai NTD 1,8 milyar (Rp. 540 milyar). Angka ini cukup untuk memenuhi kebutuhan makan siang bergizi selama setahun bagi 12 ribu anak di daerah terpencil.


10. Taiwan merupakan negara dengan jumlah mini market terpadat di seluruh dunia. Dikarenakan adanya standardisasi, maka angka pemborosannya sangat besar, sebab setiap mini market harus menjual segala macam makanan, sedangkan makanan itu tidak pasti terjual habis, jadi sebagian akan berakhir menjadi sampah dapur. Karena kita ingin mendapatkan kenyamanan, akibatnya terjadi pemborosan, mungkin pihak perusahaan sudah boleh mulai berpikir untuk mengurangi jumlah pasokan bahan makanan atau ada lebih banyak orang yang membelinya.


11. Di Hongkong ada usaha daur ulang pernah mengambil data statistik, setiap hari mereka mengumpulkan 50 ribu buah kotak makanan dari murid-murid sekolah, setiap kotaknya rata-rata bersisa 200 gram bahan makanan, jika dari angka ini diperkirakan sisa makanan dari 250 ribu murid sekolah di Taiwan, maka dalam setahun akan ada 125 ribu ton sisa makanan. Jika diisikan ke dalam tong sampah ukuran tinggi satu meter, dapat ditumpuk sampai setinggi 1221 unit gedung bangunan 101 Taipei.


12. Di Haiti ada 5,5 juta warganya yang tidak bisa makan satu kali pun setiap harinya.


13. Di Inggeris ada sebuah acara televisi bernama “Great British Waste Menu”, di mana pembawa acara akan mencari tong sampah di belakang pasar swalayan atau pasar sayur, lalu memilih bahan makanan yang dibuang untuk dijadikan menu makanan, namun prosesnya tetap di bawah pengawasan ahli kesehatan, sehingga tidak akan timbul masalah kesehatan, kemudian mereka mengundang para pengusaha yang tadinya membuang bahan makanan tersebut untuk datang mengecapi menu makanan tersebut dan meminta mereka agar mengurangi pemborosan bahan makanan.


14. Bahan makanan yang dibuang di Inggeris setiap tahunnya mencapai nilai NTD 500 milyar (Rp. 150 trilyun), selain itu masih harus menghabiskan biaya sebanyak NTD 50 mliyar (Rp. 15 trilyun) untuk menangani masalah sampah makanan ini.


15. Di negara-negara miskin seperti di benua Afrika, disebabkan masalah produksi, transportasi dan teknik penyimpanan yang terbelakang, ada seperempat dari bahan makanan yang rusak sebelum mencapai tangan konsumen. Sebaliknya di negara maju, ada 40% dari bahan makanan yang dibuang oleh para pengecer atau konsumen ke dalam tong sampah.


16. Demi agar terlihat bagus, penjual sayuran akan membuang bagian luar sayur sawi putih, sehingga sebutir sawi putih yang tadinya seberat 3 kg menjadi hanya tersisa 2,5 kg saja. Dengan kata lain, setiap menangani 6 butir sawi putih, harus dibuang 1 butir.


17. Pada musim panas, mungkin satu truk sayuran akan menjadi layu, transportasi jarak jauh juga mudah membuat sayuran rusak.

18. Produk pertanian dari luar negeri akan menderita angka kerusakan lebih besar lagi, sebab harus melalui pengiriman jauh.

19. Ada sebagian orang menganggap kulkas sebagai perlengkapan serba bisa, semua bahan makanan yang dimasukkan ke dalamnya akan tahan lama, padahal bukan begitu adanya, suhu rendah dalam kulkas hanya akan memperlambat pertumbuhan mikroba, bukan berarti bahan makanan dijamin tidak rusak. (dr. Lin Yufang dari RS Tzu Chi Taipei)


20. Jika sampah makanan di Taiwan setahunnya mencapai 1,8 juta ton, artinya rata-rata setiap orang setiap harinya membuang bahan makanan sebanyak 200 gram.


21. Bahan makanan seberat 200 gram hampir sama dengan setengah potong tahu, sebatang wortel ukuran medium atau sebutir mantou. Bahan makanan seberat 200 gram ini merupakan jatah makanan seorang dewasa di Korea Utara. Di Taiwan, jika setiap orang setiap harinya dapat mengurangi pemborosan bahan makanan seberat 200 gram, maka setiap tahunnya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan 5,5 juta warga Haiti yang kelaparan. Dengan mengurangi beberapa suap makanan dan makan sampai hanya 70% kenyang, itu akan sangat baik bagi kesehatan tubuh sendiri.


22. Dokter spesialis metabolisma pada RS Tzu Chi Taipei, dr. Liao Yuhuang mengatakan: Ada sebuah majalah terkenal di dunia memuat sebuah artikel, ada orang mengadakan eksperimen terhadap monyet di Sungai Gangga, ketika makanan dalam sekelompok monyet dikurangi sebanyak 30%, biasa kita sebut 70% kenyang, setelah 20 tahun kemudian, angka kematian turun dengan jelas, serangan sakit jantung dan kencing manis pada mereka juga berkuirang 50%, jadi mengurangi konsumsi makanan adalah sangat bermanfaat bagi panjangnya usia kita.


23. Hanya Inggeris saja sudah membuang bahan makanan sebanyak 410 ton dalam setahun, cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup 12 juta warga kelaparan di daerah bencana kekeringan parah Afrika Timur. Sedangkan di Amerika Serikat dalam setahun diboroskan hampir 50 juta ton bahan makanan, cukup untuk menyelamatkan hampir separuh warga kelaparan di benua Afrika.


24. Ketika membuang bahan makanan, pemborosan yang terjadi bukan saja bahan makanan tersebut, juga termasuk sumber daya dalam proses produksi, transportasi dan penyimpanan. Coba pikirkan, kita mempergunakan obat pertanian dan pupuk kimia untuk memaksa produksi pertanian paling maksimal, ini sangat melukai bumi dan memboroskan sumber daya air, namun terakhir kita malah membuang bahan makanan ini.


25. Menurut perkiraan Global Footprint Network, sebelum tahun 2030, kita sudah membutuhkan sebuah planet bumi yang baru, baru cukup untuk memenuhi nafsu mulut umat manusia dan tempat pembuangan sampah.


26. Pada tahun 2005, Jepang membuat undang-undang pendidikan bidang pertanian bahan makanan, mewajibkan setiap murid untuk belajar tentang pertanian bahan makanan, jika sekolah berada di daerah perdesaan, bahkan mewajibkan murid-murid untuk menanam sendiri, juga mengadakan perlombaan mencukupi bahan makanan bagi diri sendiri. Undang-undang ini juga mewajibkan para murid SD kelas 5 untuk tinggal di daerah pertanian selama seminggu, sedangkan orangtua tidak boleh ikut, tujuannya agar melalui kerja pertanian ini, anak-anak tahu darimana datangnya bahan makanan mereka.


Catatan : Tzu Chi mengambil negara Taiwan sebagai contoh karena Tzu Chi pertama kali berdiri di negara Taiwan






 BERITA