ketika keadaan mengharuskan Kita untuk menangis, tak usah berpura, menangislah. Tak semua airmata berarti lemah

Penjual Ikan yang Renta

Suatu hari, Sang Buddha dan muridnya, Ananda, berkunjung ke pasar, mereka melihat seorang penjual ikan yang renta sedang memanggil pelanggan dan menggerutu pada saat bersamaan. Sang Buddha mendekati orang tersebut agar ia dapat mendengar keluhannya dengan lebih jelas.
Orang tua tersebut terus-menerus berkata, "Kenapa Tuhan sangat tidak adil? Saya sudah sangat tua, tapi anak lelakiku, yang adalah tulang punggung keluarga, tiba-tiba meninggal! Sekarang beban berat menghidupi keluarga ditimpakan padaku!"
Sang Buddha dengan tenang mendengarkan keluhan-keluhan orang tua tersebut, lalu melirik keranjang ikan di sebelah orang tua tersebut. Ada beberapa ikan menggeliat-geliat di dalam keranjang, terus berjuang dengan menahan sakit untuk sekadar bernafas. Ketika melihat hal ini, Sang Buddha menggelengkan kepala dan berlalu.

Ananda mengamati, "Tampaknya penderitaan orang tersebut disebabkan dua hal: anak lelakinya yang mendadak meninggal dan kesedihan menanggung biaya hidup di usianya yang sudah renta. Benar-benar sedih melihat orang tua yang merana seperti dirinya masih perlu menjual ikan di pasar untuk bertahan hidup. Namun, tidakkah ia menyadari kalau ikan juga mempunyai keluarga dan perasaan. Dengan menebarkan jala dan menangkap keseluruhan jenis ikan, ia telah menghancurkan banyak keluarga ikan. Mengapa ia hanya merasakan pedih kehilangan anak lelakinya dan gagal melihat penderitaan seluruh ikan?" 

Sang Buddha menjawab, "Manusia terus menciptakan karma yang buruk dengan membunuh makhluk hidup yang lain, dan begitu buah perbuatan mereka turun pada mereka, mereka mengeluhkan kesukaran dan penderitaan mereka. Tidak ada hal yang dapat saya lakukan selain bersimpati dengan angan-angan manusia."

----------------------------------------------------------
Pesan Master Cheng Yen:
Makhluk hidup seringkali mementingkan diri sendiri, "Saya mencintai...", "Saya marah...", "Saya membenci...", "Saya suka...". Segalanya berawal dengan "Saya". Bahkan sebelum mereka mengamati, hidup mereka dipenuhi dengan kejahatan. Mereka lebih cenderung menfitnah dan dengki daripada perkataan-perkataan yang manis dan menjadi lebih serakah dan tenggang hati.
Sang Buddha percaya bahwa semua makhluk hidup dilahirkan kembali ke dalam enam alam kehidupan, yaitu: di alam surga, manusia, raksasa, binatang, setan kelaparan, dan neraka. Jika orang tidak dapat mengolah kebajikan dan berkah-berkah dengan mengerjakan tindakan yang baik, mereka akan kehilangan bentuk manusia mereka dan jatuh ke dalam dunia yang lebih rendah dari binatang pada kehidupan mereka selanjutnya. Pada saat hari itu tiba, mereka akan berjuang dengan menderita seperti ikan di dalam keranjang, menunggu untuk dibeli dan dimasak. Hal itu benar-benar nasib yang mengerikan! Oleh karenanya, pada kehidupan sehari-hari, kita harus berhati-hati dengan tindakan yang kita lakukan, perkataan yang kita ucapkan, dan hal-hal yang kita pikirkan.