ketika keadaan mengharuskan Kita untuk menangis, tak usah berpura, menangislah. Tak semua airmata berarti lemah

Yulia Baso

 
Mendedikasikan diri sebagai relawan memang bukan pekerjaan mudah. Berbagai tantangan harus dihadapi, termasuk menjelajah desa terpencil demi menyebarkan ilmu membaca bagi anak-anak tak mampu.

Hal itulah yang dilakukan Yulia Baso, seorang relawan wanita yang telah lima tahun aktif melakukan aksi sosial. Kepada wolipop, wanita berusia 36 tahun ini bercerita tentang pengalamannya sebagai relawan yang sempat membuatnya depresi.

Sambil menguncir rambut hitamnya ke atas, Ijul, begitu ia biasa disapa, mengisahkan kejadian menarik pada bulan November 2011. Saat itu, komunitas 1N3B (1 Nusa 1 Bangsa 1 Bahasa 1 Bumi) ingin membuat rumah baca di salah satu daerah terpencil yaitu Desa Sungai Lisai, Bengkulu.

Hanya dengan beranggotakan sembilan orang, Ijul berserta rombongan semangat berangkat dari Jakarta. Sampai di Bengkulu, mereka harus menempuh perjalanan selama 8 jam menggunakan mobil sampai di desa terakhir.

Ternyata, jalan menuju Desa Sungai Lisai tidaklah mudah. Ijul mengaku merasa cukup stres selama perjalanan karena medan yang ditempuh cukup berat. Dia harus melalui 5 jam berjalan kaki melewati rawa.

"Jalan kaki 5 jam sampai Sungai Lisai benar-benar lewat rawa. Pas perjalanannya memang melelahkan, capek, stres mental juga karena melihat medannya nggak ada di bayangan," kisah Ijul dalam perbincangan akrab bersama wolipop di Plaza Semanggi, Jakarta, belum lama ini.

Namun usahanya tak sia-sia. Perjalanan panjang itu terbayar setelah Ijul sampai di tempat tujuan. Dia merasa begitu senang dan antusias untuk memberikan buku-buku pelajaran dan pengetahuan, mengenalkan anak-anak di sana dengan sains yang sederhana, bermain bersama, hingga melatih bahasa Inggris.

"Waktu dalam perjalanan pernah kepikiran ngapain ya gua jauh-jauh, tapi pas lihat anaknya ya sudah hilang perasaan itu, jadinya malah senang banget. Setelah balik malah mikir, kayaknya harus sering-sering nih ke sini," tutur Ijul.

Kegiatan di 1N3B memang lebih fokus pada daerah di luar Jawa. Tujuan gerakan ini adalah mencari daerah pelosok untuk memberikan buku-buku agar pengetahuan mereka semakin luas, mengingat di daerah pedalaman sangat sulit akses pendidikannya.

Buku-buku sumbangan itu berasal dari donatur yang merupakan teman-teman mereka sendiri. Mereka juga menggalang dana melalui proposal yang disebar ke jejaring sosial serta beberapa perusahaan karena kegiatan 1N3B perlu dana yang besar.

"1N3B kan butuh dana besar biasanya kirim ke perusahaan-perusahaan teman dari 1N3B. Kalau penerbit ada sih, tahun lalu itu kita beli dari Erlangga, paling dapat potongan saja," ujar wanita lulusan Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Bandung ini.

Tidak hanya proposal, kesungguhan Ijul dan anggota dari 1N3B yang berjumlah sekitar 20 orang itu juga berusaha menjual merchandise, seperti mug dan kaos. Bahkan bila donasi tidak mencukupi, mereka mengumpulkan uang dari hasil jerih payah masing-masing agar bisa merealisasikan kegiatannya setiap tahun.

Ijul memang wanita yang bisa menginspirasi Anda untuk peduli terhadap orang lain. Bagi Anda yang ingin mengikuti jejaknya, dia menyarankan untuk mencari teman dengan tujuan yang sama.

"Supaya nggak berhenti di jalan walaupun sibuk, bergabung sama teman yang sepaham, karena ketika kamu down nanti ada yang menyemangati," tutupnya di akhir pembicaraan.