ketika keadaan mengharuskan Kita untuk menangis, tak usah berpura, menangislah. Tak semua airmata berarti lemah

Dinasti Joseon


Quote:Dinasti Joseon adalah negara berdaulat yang didirikan oleh Yi Seong-gye yang pada saat ini dikenal dengan nama Korea. Dinasti Joseon didirikan setelah lengsernya Dinasti Goryeo. Joseon merupakan dinasti Konfusius yang terlama memerintah di dunia. Setelah pendeklarasian Kekaisaran Korea tahun 1894, masa kekuasaan dinasti ini berakhir saat dimulainya penjajahan Jepang tahun 1910.


Awal Perkembangan


Quote:Pendiri Dinasti Joseon adalah Yi Seong-gye, seorang anggota klan Yi dari Jeonju yang melengserkan Raja Woo dari Dinasti Goryeo. Ia juga seorang ahli militer cerdik yang melawan bajak laut Jepang di perairan Korea.

Di akhir abad ke-14 M, dinasti Goryeo yang berusia 400 tahun yang didirikan Wang-geon tahun 918 lengser, fondasinya melemah akibat perang yang berkepanjangan dan penjajahan de facto oleh Kekaisaran Mongol. Dalam tubuh kerajaannya sendiri juga mengalami perselisihan dikarenakan tidak hanya penguasanya gagal mengendalikan secara efektif kerajaannya, namun juga dianggap tercemari oleh generasi-generasi dari perkimpoian paksa dengan anggota keluarga Kekaisaran Mongol dan keluarga rival.

Menyusul berdirinya Dinasti Ming dibawah pimpinan Zhu Yuanzhang yang karismatik (Kaisar Hongwu), kekuasaan dalam tubuh Goryeo terpecah ke dalam faksi-faksi yang saling berkonflik yaitu kelompok yang dipimpin Jenderal Yi (pendukung Ming) dan Jenderal Choe (di posisi Mongol). Ketika utusan Ming tiba di Goryeo tahun 1388 (tahun ke-14 rezim Raja Woo) untuk meminta pengembalian teritori utara Goryeo kepada Ming, Jenderal Choe menggunakan kesempatan itu untuk melakukan invasi terhadap Semenanjung Liaodong (Goryeo mengklaim sebagai penerus kerajaan kuno Goguryeo dan menginginkan untuk mengembalikan kejayaannya dengan mengambil alih Manchuria).

Jenderal Yi yang dapat dipercaya dijadikan pemimpin invasi, namun pada saat mencapai Pulau Wuihwa di Sungai Yalu, ia memberontak dan memimpin balik pasukan ke ibukota Gaegyeong, melakukan pembunuhan terhadap Jenderal Choe dan para pengikutnya. Ia memulai kudeta terhadap Raja Woo dan mengangkat putranya, Raja Chang pada tahun 1388. Karena usaha restorasinya gagal Jenderal Yi membunuh mantan Raja Woo dan Raja Chang lalu memaksa raja baru naik tahta, yakni Raja Gongyang. Setelah memaksakan kekuasaanya secara tidak langsung melalui raja boneka, Yi mulai bersekutu dengan Bangsawan Sinjin seperti Jeong Do-jeon dan Jo Jun. Sebagai jenderal de facto Goryeo, ia membuat Undang-Undang Gwajeon yang secara efektif bertujuan untuk menyita tanah dari tuan tanah kaya dan kelompok bangsawan konservatif Gwonmun, lalu membagi-bagikannya kepada pendukungnya di kelompok Sinjin. Pada tahun 1392 (tahun ke-4 rezim Raja Gongyang), putra ke-5 Yi, Yi Bang-won, demi kesetiaanya pada ayahnya memerintahkan 5 orang untuk mengeksekusi seorang bangsawan pendukung rezim lama bernama Jeong Mong-ju di Jembatan Seonjuk dekat ibukota.

Tahun yang sama, Yi menuruntahtakan Raja Gongyang, mengasingkannya ke Wonju dan naik tahta. Dinasti Goryeo berakhir setelah 500 tahun berkuasa.


Raja Taejo:


Penghapusan sisa-sisa Goryeo

Quote:Pada awal kekuasaan Yi Seong-gye, sekarang Raja Taejo, berniat melanjutkan penggunaan nama Goryeo untuk negara dan secara sederhana mengubah garis kekuasaan untuk keturunannya, lalu tetap melanjutkan 500 tahun kekuasaan Goryeo. Namun dengan banyaknya ancaman dari kelompok pro-rezim sebelumnya, yakni kelompok bangsawan Gwonmun, Raja Taejo akhirnya melakukan reformasi besar seluruh sistem dengan nama dinasti Joseon pada tahun 1393.

Dengan deklarasi kekuasaan baru, kerajaan sekarang menemui masalah dengan sisa-sisa keturunan dari keluarga Wang. Raja Taejo dan pejabatnya merasa bahwa legitimasi kepemimpinannya selalu dipermasalahkan oleh sisa-sisa anggota keluarga Goryeo, mereka harus menekan pemberontakan massa atau justru membahayakan kursi kepemimpinan mereka yang baru. Akhirnya, Raja Taejo menyuruh perdana menterinya Jeong Do-jeon memerintahkan semua keluarga Wang pergi ke pantai barat dan mengasingkan mereka semua ke pulau Ganghwa, dimana mereka diharapkan dapat hidup tenang dan jauh dari pemerintahan. Namun semua rencana itu rupanya jebakan, pada saat berlayar kapal dengan sengaja ditabrakkan ke karang sampai tenggelam bersama seluruh penumpangnya. Konon berdasarkan cerita rakyat beberapa anggota yang selamat dan mencapai daratan, mengganti nama marga mereka, Wang (王), menjadi Ok (玉) untuk menyembunyikan keturunan mereka.

Setelah seluruh sisa keluarga dari Goryeo disingkirkan, Raja Taejo menginginkan ibukota baru. Walau Gaegyeong telah menjadi ibukota pemerintahan selama lebih dari 400 tahun, adalah tradisi untuk dinasti baru memindahkan ibukota ke lokasi baru menurut cara faengshui dan geomansi. Gaegyeong (kini Gaeseong di Korea Utara) dianggap sudah kehilangan energi untuk dijadikan pusat pemerintahan. Hasilnya, 3 tempat terpilih sebagai calon ibukota baru: kaki gunung Gyeryeong serta kota Muak dan Seoul. Lokasi di kaki gunung Gyeryeong ditolak setelah diketahui memiliki tanah yang kurang bagus dan kurangnya sarana komunikasi, sementara Muak dipertimbangkan serius sebelum akhinrya Raja Taejo memutuskan Hanyang sebagai tempat yang paling tepat. Hanyang dapat dengan mudah dicapai dari darat dan laut, berpusat di tengah-tengah semenanjung Korea dan dalam sejarahnya tempat ini dahulu selalu diperebutkan Tiga Kerajaan karena tanahnya yang subur. Selama berabad-abad Hanyang dipercaya adalah tempat yang penuh aliran energi geomansi yang baik. Ia bergunung-gunung di utara dan berbukit-bukit di selatan sebagai pelindung, dan diantaranya terdapat dataran lapang sehingga memenuhi kriteria poros utara-selatan. Hanyang dijadikan ibukota resmi tahun 1394 dan nama formalnya adalah Hanseong. Istana dibangun di kaki gunung Bugak.

Wilayah yang dihuni harimau ini secara cepat dibangun dengan jalan, gerbang, jembatan, perumahan, fasilitas publik dan 5 istana besar yang semuanya diselesaikan tahun 1394. Sebelum berakhirnya pertengahan abad ke-15, semua fasilitas kota telah diselesaikan dan berjalan dengan baik.


Invasi awal Jepang

Quote:
Selama sejarah Korea, bajak laut Jepang mengacau di wilayah pantai dan darat di Korea, oleh karena itu angkatan laut diperlukan untuk melindungi perdagangan maritim. Tentara Joseon mengembangkan persenjataan dengan teknologi baru yang diimpor dari Ming seperti meriam dan panah api.
Dalam masa Invasi Jepang ke Korea (1592-1598), penglima perang Jepang Toyotomi Hideyoshi yang berambisi menguasai Tiongkok, menginvasi Joseon dari tahun 1592-1597.

Dengan persenjataan modern dari Portugis, dalam hitungan bulan mereka menduduki semenanjung, Hanseong dan Pyeongyang pun berhasil diduduki. Akibat perpecahan dalam kabinet kerajaan, kurangnya informasi mengenai kemampuan militer musuh dan gagalnya usaha diplomasi menyebabkan buruknya persiapan Joseon.

Perlawanan sengit dari rakyat melemahkan kekuatan musuh dengan kemenangan-kemenangan besar perang naval dalam pimpinan Admiral Yi Sun-shin. Admiral Yi mengambil alih kendali di perairan dengan menghabisi kapal-kapal suplai Jepang. Adanya bantuan Ming yang mengirimkan bantuan pasukan dalam jumlah besar tahun 1593 berhasil memukul mundur pasukan Hideyoshi. Joseon mengembangkan armada perang dengan perlengkapan canggih dan kemampuan tinggi seperti armada Geobukseon (Kapal Kura-kura) yang berlapis besi. Namun, kemenangan Joseon dibayar dengan harga yang sangat mahal. Lahan pertanian, saluran irigasi, fasilitas desa dan perkotaan rusak berat. Ratusan ribu penduduk tewas, jutaan lain menderita kerugian materi. Puluhan ribu seniman, pengrajin dan pekerja terbunuh dan diculik ke Jepang guna mengembangkan teknik kerajinan mereka. Para samurai itu juga merampok banyak harta sejarah bernilai Korea, banyak diantaranya disimpan di museum-museum.

Setelah perang berakhir, terputuslah hubungan Jepang dengan daratan Asia. Jepang tidak dapat lagi menikmati teknologi yang dimiliki daratan Asia. Setelah kematian Toyotomi Hideyoshi, negosiasi antara Joseon dan keshogunan Tokugawa dilakukan oleh Jepang di Tsushima. Pada tahun 1604, Tokugawa Ieyasu menginginkan dibukanya kembali relasi dengan Joseon agar mereka bisa berhubungan kembali dengan daratan Asia. Sesuai perjanjian Tokugawa membebaskan 3000 orang tahanan Joseon. Hasilnya pada tahun 1607, utusan dari Joseon mengunjungi Edo, dan hubungan kedua negara dipulihkan namun terbatas.




Hubungan dengan Tiongkok setelah Ming
Quote:Menyusul berakhirnya invasi Jepang, Joseon mulai mengisolasi diri. Penguasanya membatasi hubungan dengan negara lain. Sementara itu Dinasti Ming mulai melemah, sebagian karena terkurasnya biaya akibat membantu Joseon dalam invasi Jepang dan semakin menguatnya pengaruh suku Manchu atas Tiongkok. Joseon memperketat penjagaan dan kontrol terhadap lalu-lintas perbatasan, serta menunggu berita dari pergolakan di Tiongkok.

Walau demikian, hubungan dagang tetap berjalan dengan Mongolia, Tiongkok, Asia Utara dan Jepang. Khusus dengan Jepang, perdagangan dibatasi oleh raja dengan menunjuk utusan khusus untuk mencegah pembajakan di laut.

Joseon menderita 2 kali invasi dari suku Manchu, tahun 1627 dan 1637. Joseon menyerah dan menjadi negeri protektorat Dinasti Qing yang berkewajiban membayar upeti. Pada saat ini Joseon terlibat hubungan dagang dua arah dengan Qing. Penguasa Qing mengadopsi kebijakan asing untuk menghindari pendudukan tanah Tiongkok oleh pendatang asing. Kebijakan ini membatasi kegunaan jalur entrepot (gudang barang) pedagang asing dengan memindahkan pintu gerbang baru ke Macau. Pintu gerbang entrepot merupakan jalur utama dalam perdagangan kain sutera produksi Tiongkok dengan perak dari negara lain. Pengaturan ini memindahkan jalur dagang dari wilayah utara yang tidak stabil ke propinsi-propinsi selatan, sehingga membatasi pengaruh orang asing terhadap Tiongkok.

Kebijakan ini memengaruhi Joseon yang merupakan mitra dagang utama mereka. Walau hubungan dagang diperketat, Joseon tetap menjalin hubungan dagang dengan Tiongkok (yang saat itu adalah negara termaju di dunia) dalam produk-produk kekayaan alam, teknologi terbaru, keramik, dan ginseng.


Kejatuhan dan Kekaisaran Han Raya

Quote:Pada abad ke-19, ketegangan mulai meningkat antara Tiongkok dan Jepang, mencapai puncaknya dalam Perang Sino Jepang Pertama (1894-1895). Ironisnya sebagian besar dari perang ini terjadi pada wilayah semenanjung Korea. Setelah Restorasi Meiji, Jepang maju pesat dengan bantuan teknologi militer barat. Kekaisaran itu memaksa Joseon menandatangani Perjanjian Ganghwa pada tahun 1876. Jepang kembali menancapkan kukunya ke tanah Korea demi mencari sumber daya alam dan bahan pangan dengan membangun kekuatan ekonomi di semenanjung, suatu tanda dimulainya ekspansi ke Asia Timur.

Dengan kekalahan Tiongkok tahun 1894 dalam perang akhirnya mencapai kesepakatan dalam Perjanjian Shimonoseki antara kedua belah pihak, yang digunakan sebagai alasan untuk membebaskan Korea dari pengaruh Qing. Kemudian Joseon membangun Gerbang Kemerdekaan dan berhenti membayar upeti kepada Qing. Terjepit akan 3 kekuatan besar, Raja Gojong merasa perlu untuk mempertahankan integritas nasional dan akhirnya pada tahun 1897 mendeklarasikan Kekaisaran Han Raya. Ia mengganti gelar menjadi kaisar guna menyatakan kemerdekaan negerinya. Secara tidak langsung, 1897 merupakan tahun berakhirnya periode Joseon, namun secara resmi masih memimpin Korea meskipun tahun 1895 Jepang mengacaukan istana dengan pembunuhan Maharani Myeongseong oleh mata-mata bernama Miura Goro.


Penjajahan Jepang

Quote:Dalam seri Pertempuran Port Arthur pada tahun 1905, Jepang melibas Rusia tanpa ampun. Sebelumnya Rusia dan Tiongkok adalah payung Korea dan melindunginya dari invasi langsung, namun akibat kekalahan Rusia dan jatuhnya Tiongkok ke tangan Jepang, tinggallah Korea yang nasibnya bergantung pada belas kasihan Jepang.

Dengan berakhirnya Perang Russo-Jepang 1904-1905 dalam kesepakatan dalam Perjanjian Portsmouth, jalan Jepang ke Korea semakin terbuka. Setelah menandatangani Perjanjian Portektorat tahun 1905, Korea menjadi protektorat Jepang dengan gubernur Jenderal pertama adalah Ito Hirobumi. Hirobumi tewas tahun 1909 di Harbin setelah dibunuh nasionalis Korea, Ahn Jung-geun. Tahun 1910 secara resmi era Dinasti Joseon berakhir bersamaan dengan jatuhnya Korea ke dalam jajahan Jepang.





Sistem Hierarki Sosial

Quote:Selama era Joseon, sistem administrasi yang tersentralisasi dilaksanakan berdasarkan sistem konfusius oleh yangban.

1. Wang ( Raja )

2. Yangban ( Bangsawan )

Yangban berarti 2 kelompok kelas, dan terdiri atas kelompok militer dan birokrat. Untuk menjadi yangban harus melewati ujian-ujian, namun kadang-kadang putra bangsawan yang dihormati diberikan hak khusus.

3. Chungin ( Pegawai Pemerintahan )

4. Sangmin ( Rakyat Jelata )

Umumnya berprofesi sebagai petani, pekerja dan nelayan berada di bawah kelas chungin. Kelas sangmin dikenai pajak Cho (租)•Po (布)•Yuk (役). Seringkali pajak berat dan kasus korupsi para birokrat menyebabkan kerusuhan. Semua sangmin dapat mencapai posisi yangban, namun posisi kelas birokrat tidak bisa diwariskan, sedikit dari mereka yang dapat mengatur waktu dan uang guna mengikuti ujian-ujian.

5. Cheongmin ( Budak )

Perbudakan di Joseon adalah warisan keturunan, namun dapat pula diberlakukan sebagai hukuman legal. Ada kelas budak yang dimiliki oleh pemerintah atau pribadi, dan pemerintah dapat menjual budak kepada rakyat kelas atas. Budak milik pribadi mewariskan keturunan yang juga budak. Selama masa panen yang buruk, banyak dari kelas sangmin yang sukarela menjadi budak demi bertahan hidup. Budak pribadi juga dapat bebas jika mereka mampu membayar. Dalam era Joseon 30% - 40% populasinya adalah kelas budak. Mereka dianggap mengerjakan pekerjaan kasar seperti tukang daging, dan pembuat sepatu.


Sistem hirarki sosial Joseon diwariskan dari zaman Goryeo. Pada abad 14 – 17, sistem ini mencapai masa puncaknya. Pada abad 18 – 19, kelas atas bertambah dengan pesat dan sistem ini mulai longgar dan akhirnya dihapuskan secara resmi tahun 1894. Dalam masyarakat modern sekarang, beberapa keluarga masih mengenali dan menghormati garis yangban mereka.



Gelar dan penyebutan

Quote:Dalam kerajaan

Wang  (王 왕; Raja) dengan formalitas sebutan jeonha (殿下 전하; Yang Mulia Raja) atau sebutan lain yang agak jarang digunakan namun cukup umum, mama (媽媽 마마; juga berarti Yang Mulia Raja). Selain sebutan "jeon ha", terdapat banyak jenis gelar dan sebutan bagi raja. Contohnya untuk mendiang raja, gelarnya adalah seondaewang (先大王 선대왕; Mendiang Raja Besar) atau daewang (大王 대왕; Raja Besar); utusan asing menyebut gugwang (國王 국왕; Raja Negeri) dan penghuni istana jika berbicara dengan raja, formalitas yang lebih dalam harus digunakan yaitu dengan penyebutan geum-sang (今上 금상; Raja Kini), jusang atau sanggam (主上 주상上監 상감; Raja Berdaulat), atau daejeon (大殿 대전; Istana Besar). Penyebutan untuk raja sama untuk semua gelar, kecuali ibu suri dan raja yang baru saja turun tahta, yang berbicara dengan raja tanpa menggunakan formalitas tertentu.

• Wangbi  (王妃 왕비; Permaisuri/Ratu), dengan formalitas mama (媽媽 마마; Yang Mulia Permaisuri). Formalitas di istana menggunakan sebutan junggungjeon atau jungjeon (中宮殿 중궁전中殿 중전; Istana Tengah). Permaisuri yang telah menikah dengan raja sampai meninggalnya biasanya diberi gelar dengan 2 buah huruf hanja di depan dan akhiran wanghu (王后 왕후; Ratu) di belakangnya.

• Sangwang  (上王 상왕; Mantan Raja), raja yang sukarela turun tahta untuk digantikan putranya. Mereka umumnya masih memiliki pengaruh pada masa-masa akhir hidupnya. Formalitasnya adalah jeonha (殿下 전하; Yang Mulia) atau Mama (媽媽 마마; Yang Mulia).

• Daebi  (大妃 대비; Ibu Suri), ibu dari raja, formalitasnya adalah mama (媽媽 마마; Yang Mulia). Ibu Suri cukup berpengaruh bagi kekuasaan raja, terutama saat raja masih terlalu muda dalam memimpin.

• Taesangwang  (太上王 태상왕; Mantan Raja Besar), seorang mantan raja senior di atas raja lain yang juga sudah turun tahta. Formalitasnya adalah jeonha (殿下 전하; Yang Mulia) atau mama (媽媽 마마 ; Yang Mulia).

• Wangdaebi  (王大妃 왕대비; Ibu Suri Istana), mantan ratu senior berada di atas ibu suri senior lain atau dapat juga yang bertindak adalah bibi sang raja. Formalitasnya mama (媽媽 마마 Yang Mulia).

• Daewangdaebi  (大王大妃 대왕대비; Ibu Suri Istana Besar), mantan ratu senior yang berada di atas seorang mantan ratu lain dan seorang ratu yang sedang berkuasa, formalitasnya mama (媽媽 마마; Yang Mulia).

• Daewongun  (大阮君 대원군; Pangeran Dalam Besar), ayah dari seorang raja yang tidak dapat naik tahta karena ia bukan dari generasi yang menjadi pewaris tahta (raja-raja yang dihormati dalam Kuil Jongmyo haruslah menjadi senior dari raja berkuasa yang melakukan penghormatan bagi mendiang raja senior).

• Budaebuin  (府大夫人 부대부인; Istri Pangeran Dalam Besar), istri dari Pangeran Dalam Besar atau ibu raja yang ayahnya tidak bisa naik tahta.

• Buwongun 
(府院君 부원군; Pangeran Dalam), ayah dari permaisuri/ratu.

• Bubuin  (府夫人 부부인; Istri Pangeran Dalam), ibu dari permaisuri/ratu.

• Gun  (君 군; Pangeran), sebutan untuk putra raja yang lahir dari hubungan dengan selir atau keturunan dari Pangeran Besar. Formalitasnya adalah agissi (아기씨; Yang Mulia) sebelum pernikahan dan daegam (大監 대감; Yang Mulia) setelahnya.

• Gunbuin  (郡夫人 군부인; Istri Pangeran), istri dari pangeran.

• Daegun  (大君 대군;Pangeran Besar), pangeran yang lahir secara resmi antara hubungan raja dan ratu, formalitasnya adalah agissi (아기씨; Yang Mulia) sebelum pernikahan dan daegam (大監 대감; Yang Mulia) setelahnya.

• Bubuin  (府夫人 부부인; Istri Pangeran Besar), istri dari pangeran besar.

• Wonja  (元子 원자; Pangeran Istana), putra pertama raja sebelum secara formal diangkat sebagai calon pewaris tahta, dengan formalitas mama (媽媽 마마 Yang Mulia). Umumnya Pangeran Istana adalah putra yang lahir dari hubungan resmi raja dan ratu, namun ada pengecualian saat gelar Pangeran Istana diberikan pada putra pertama raja dengan selir, contohnya adalah yang terjadi pada masa Raja Sukjong.

• Wangseja  (王世子 왕세자; Pangeran Istana Penerus), calon pewaris tahta, dengan putra tertua diberikan hak atas saudara-saudaranya, dengan gelar yang disingkat seja (世子 세자; Pangeran Penerus) dengan formalitas jeoha (邸下 저하; Yang Mulia). Dalam sebutan yang kurang formal digunakan gelar donggung (東宮 동궁; Istana Timur) atau chungung (春宮 춘궁; Istana Musim Semi) dengan formalitas mama (媽媽 마마; Yang Mulia).

• Wangsaejabin (王世子嬪 왕세자빈; Istri Pangeran Penerus Istana), istri dari pangeran penerus atau sederhananya Istri saejabin (世子嬪 세자빈; Pangeran Penerus), dengan formalitas manora 마노라, atau manura마누라 (Yang Mulia).

• Gongju  (公主 공주; Putri), putri dari hubungan resmi raja dengan permaisuri, formalitasnya agissi (아기씨; Yang Mulia) sebelum pernikahan dan jaga (자가; Yang Mulia) setelahnya.

• Ongju Putri 
(翁主 옹주; Putri), putri dari hubungan antara raj dan selir, formalitasnya agissi (아기씨; Yang Mulia) sebelum pernikahan dan jaga (자가; Yang Mulia) setelahnya.

• Wangseje  (王世弟 왕세제; Saudara Penerus Pangeran Istana), saudara laki-laki (adik) raja yang telah dicalonkan menjadi pewaris tahta saat sang raja tidak memiliki keturunan.

• Wangseson  (王世孫 왕세손; Keturunan Penerus Pangeran Istana), putra dari Pangeran Penerus dan Istri Pangeran Penerus, dan cucu dari raja, dengan formalitas hap-a (閤下 합하; Yang Mulia).

Semasa kekaisaran

Hwangje (皇帝 황제) Kaisar, dengan formalitas pyeha (陛下 폐하; Yang Mulia Kaisar)

• Hwanghu (皇后 황후) Maharani (istri), dengan formalitas Yang Mulia Maharani.

• Hwangtaehu (皇太后 황태후) Ibu Suri

• Taehwangtaehu (太皇太后 태황태후)  Ibu Suri senior, nenek Kaisar

• Hwangtaeja (皇太子 황태자) Putra Mahkota Kaisar, dengan formalitas jeonha (殿下 전하; Yang Mulia)

• Hwangtaeja-bi (皇太子妃 황태자비)  Putri Mahkota istri Putra Mahkota, dengan formalitas Yang Mulia

• Chinwang (親王 친왕) Pangeran putra kaisar, dengan formalitas Yang Mulia

• Chinwangbi (親王妃 친왕비)
 Putri istri pangeran, dengan formalitas Yang Mulia

• Gongju (公主 공주)
 Putri Kaisar, anak perempuan Kaisar dan Maharani, dengan formalitas Yang Mulia

• Ongju (翁主 옹주)  Putri Kaisar, anak kaisar dengan, dengan formalitas Yang Mulia





Pemerintahan
Quote:

Dinasti Joseon adalah monarki yang sangat terpusat dan birokrasi neo-Konfusianisme seperti yang dikodifikasikan oleh Gyeongguk Daejeon, semacam Joseon konstitusi.

Raja
Raja memiliki kekuasaan mutlak, tetapi kekuasaan yang sebenarnya bervariasi dengan situasi politik. Ia terikat oleh tradisi, preseden yang ditetapkan oleh raja-raja sebelumnya, Gyeongguk Daejeon, dan ajaran Konfusianisme.

Pejabat-pejabat

Para pejabat pemerintah memiliki 18 tingkatan, mulai dari peringkat pertama senior (정 1 품, 正 一 品) turun ke peringkat kesembilan junior (종 9 품, 从 九品) berdasarkan senioritas dan promosi, yang dicapai melalui dekrit kerajaan berdasarkan pada pemeriksaan atau rekomendasi. Para pejabat dari golongan 1 hingga golongan ke-3 mengenakan jubah merah sementara pejabat dari golongan ke-3 hingga ke-6 mengenakan biru dan pejabat dibawah nya mengenakan jubah hijau.

Para pejabat dari golongan satu dan dua atas disebut"dae-gam" (대감, 大 监) sedangkan golongan 2 bawah dan 3 atas disebut "yeong-gam" ( 영감, 令 监). Para pejabat berjubah merah, secara kolektif disebut "dangsanggwan" (당상관, 堂上 官). Sisa pejabat peringkat disebut "danghagwan" (당하관, 堂 下官).

Pemerintah pusat

Quote:
Dewan Negara

Dewan Negara (Uijeongbu, 의정부, 议 政府) adalah badan musyawarah tertinggi, yang kekuasaannya namun menurun selama dinasti. Kepala Penasehat Negara (Yeonguijeong, 영의정, 领 议政), Kiri Penasehat Negara (Jwauijeong, 좌의정, 左 议政), dan Hak Penasehat Negara (Uuijeong, 우의정, 右 议政) adalah pejabat tertinggi dalam pemerintahan (Ketiganya dari peringkat 1 senior). Mereka dibantu oleh Menteri Kiri (Jwachanseong, 좌찬성, 左 赞成) dan Menteri Kanan(Uichangseong, 우찬성, 右 赞成). Kekuatan Dewan Negara adalah berbanding terbalik dengan kekuasaan raja.

Enam Kementerian


(Yukjo, 육조, 六 曹) membentuk tubuh eksekutif. Setiap menteri (Panseo, 판서, 判 书) dibantu oleh wakil menteri (Champan, 참판, 参 判). Departemen Personalia adalah kantor tertua dari enam kementerian. Sebagai pengaruh Dewan Negara memudar dari waktu ke waktu.


  • Departemen Personalia (Ijo, 이조, 吏 曹) - terutama berkaitan dengan pengangkatan pejabat.
  • Departemen Perpajakan (Hojo, 호조, 户 曹) - perpajakan, keuangan, sensus, pertanian, dan kebijakan pertanahan.
  • Departemen Ritus (Yejo, 예조, 礼 曺) - ritual, budaya, diplomasi, ujian gwageo
  • Departemen Pertahanan (Byeongjo, 병조, 兵 曺) - urusan militer.
  • Departemen Kehakiman (Hyeongjo, 형조, 刑 曺) - administrasi hukum, perbudakan, hukuman.
  • Departemen Pekerjaan (Gongjo, 공조, 工 曹) - industri, pekerjaan umum, manufaktur, pertambangan.


Tiga Kantor

Quote:Tiga Kantor, atau Samsa (삼사), adalah nama kolektif untuk tiga kantor yang berfungsi sebagai organ utama pers dan memberikan pemeriksaan dan keseimbangan pada raja dan pejabat. Para pejabat yang bertugas di kantor tersebut cenderung lebih muda dan berpangkat rendah dibandingkan dengan kantor-kantor lain tetapi memiliki reputasi akademik yang kuat dan menikmati hak-hak istimewa dan prestise besar (Misalnya, sensor diizinkan untuk minum selama jam kerja karena fungsi mereka mengkritik Raja).

Kantor Inspektur Jenderal (Saheonbu · 사헌부) - Memantau administrasi dan pejabat pemerintah di setiap tingkatan pemerintah baik pusat dan daerah untuk korupsi, penyimpangan, atau inefisiensi. Juga bertugas memajukan moral publik dan adat Konghucu dan menyelesaikan keluhan rakyat. Saheonbu dipimpin oleh Inspektur Jenderal (Daesaheon · 대사헌).

Kantor Sensor (Saganwon · 사간원) - Adalah untuk memprotes raja jika ada tindakan atau kebijakan yang salah atau tidak benar.

Kantor Penasehat Khusus (Hongmungwan · 홍문관 弘文 馆) - Mengawasi perpustakaan kerajaan dan menjabat sebagai lembaga penelitian untuk mempelajari filsafat Konfusianisme dan menjawab pertanyaan raja.


Kantor-kantor lain

Quote:Sekretariat Kerajaan (Seungjeongwon · 승정원) menjabat sebagai penghubung antara raja dan enam Kementerian. Ada enam sekretaris kerajaan (승지). Peran utama mereka adalah untuk mewariskan dekrit kerajaan untuk kementerian dan menyerahkan petisi dari para pejabat dan rakyat kepada raja, tetapi mereka juga menyarankan raja dan bertugas di posisi yang dekat dengan raja.

Modal Biro (Hanseungbu · 한성부) bertugas mengatur ibukota, Hanyang atau Seoul saat ini. Yang bertugas disebut oleh Paanyoon (판윤).

Royal Biro Investigasi (Uigeumbu · 의금부)
adalah Kantor investigasi dan penegakan hukum di bawah kontrol langsung dari raja. Biasanya menanangani kasus penghianatan dan kasus-kasus serius lainnya yang bersangkutan raja dan keluarga kerajaan.

Kantor Catatan (Chunchugwan · 춘추관) Bekerja untuk menulis, menyusun catatam sejarah. Dipimpin oleh Anggota Dewan Negara, dan banyak catatan yang dipegang oleh pejabat yang bertugas di kantor lain secara bersamaan. Ada delapan historiographers yang berfungsi untuk merekam pertemuan untuk sejarah.

Seonggyungwan atau Royal Academy (성균관) -Universitas Kerajaan bertugas untuk mempersiapkan pejabat pemerintah di masa depan. Mereka yang lulus dua tahap pertama pemeriksaan gwageo (ujian sastra) baru bisa masuk ke Seonggyungwan. Siswa Seonggyungwan tinggal di asrama dan mengikuti peraturan sekolah yang ketat dan rutin. (Biaya kuliah, kamar dan makan disediakan oleh pemerintah.) Pejabat yang bertanggung jawab adalah Daesaseong (대사성). Pejabat lainnya termasuk dari kantor lain yang terlibat dalam menjalankan akademi.



Pembagian administratif


Quote:
  • Provinsi (Do · 도) - Ada delapan provinsi, yang masing-masing dipimpin oleh seorang Gubernur (Gwanchalsa · 관찰사)
  • Bu (부) - Kantor administrasi yang bertanggung jawab atas kota-kota besar di provinsi-provinsi. Setiap bu dipimpin oleh Buyoon (부윤), yang setara dengan pangkat Gubernur.
  • Mok (목) - Ada dua puluh mok(주). Setiap mok dipimpin oleh moksa (목사)
  • County (Gun · 군) - Ada delapan kabupaten di Joseon, masing-masing diatur oleh Gunsu (군수)
  • Hyeon (현) - hyeons besar diperintah oleh Hyeongryeong (현령) sementara hyeons kecil diperintah oleh Hyeonggam (현감).




Hangeul
Quote:
Hangeul adalah alfabet yang digunakan untuk menulis Bahasa Korea. Hangeul diciptakan oleh Raja Sejong yang Agung (1397-1450) pada tahun 1443 masa Dinasti Joseon. Meskipun tulisan Hangeul terlihat seperti tulisan ideografik (tulisan dalam bentuk 'simbol' seperti aksara Tionghoa), Hangeul sebenarnya merupakan abjad fonetik atau alfabet, karena setiap hurufnya merupakan lambang vokal dan konsonan yang berbeda. Alfabet Hangeul terdiri dari 24 huruf (jamo)— 14 huruf mati (konsonan) dan 10 huruf hidup (vokal). Sebenarnya Hangeul masih mempunyai 3 konsonan dan 1 buah huruf vokal, namun dihilangkan.

Hangeul diciptakan oleh Raja Sejong yang Agung. Selanjutnya, pada tahun 1446, Hangeul ditampilkan dalam bentuk terpublikasi beserta pedoman penjelasan rinci. Sejong menamakan alfabet tersebut Hunminjeongeum ("Suara yang tepat untuk diajarkan kepada rakyat"). alfabet ini sekarang dinamakan Hangeul yang bermakna "alfabet Han" atau "alfabet Agung". Setiap tanggal 9 Oktober di Korea Selatan diperingati sebagai Hari Hangeul.
Keunggulan

Dari 6000 buah bahasa yang dituturkan di duni saat ini, hanya 100 bahasa yang memiliki aksara mereka sendiri, salah satunya adalah Bahasa Korea yang menggunakan sistem penulisan Hangeul. Hangeul adalah satu-satunya aksara yang diciptakan oleh seorang individu berdasarkan teori dan maksud yang telah direncanakan dengan baik.

Dibanding aksara bangsa lain, Hangeul tidak didasarkan pada suatu bahasa tulis atau meniru aksara lain, namun unik khas Korea. Lebih lagi, Hangeul merupakan sistem penulisan yang bersifat ilmiah, didasarkan pada pengetahuan kebahasaan yang mendalam dan asas-asas filosofis sehingga membuatnya praktis, mudah dipelajari, dan elok rupanya.
Asas-asas Hangeul

Dalam sebagian besar sejarahnya, rakyat Korea menulis dengan aksara Tionghoa (Hanja). Karena bahasa tutur kedua bangsa ini berasal dari keluarga yang berbeda, bahasa Korea tidak bisa secara tepat diungkapkan dalam aksara Tionghoa. Dalam bahasa Tionghoa, kalimat ditandai dengan partikel, sementara dalam bahasa Korea, akhiran digunakan untuk menambah atau memodifikasi makna. Walau tidak nyaman, kaum bangsawan Korea (yangban) tetap mendukung penggunaan hanja secara teguh.

Raja Sejong adalah seorang pemimpin sekaligus ilmuwan, dan pelopor budaya. Melalui upaya keras bertahun-tahun, ia meneliti unit dasar Bahasa Korea menggunakan kemampuannya sendiri tentang kebahasaan dan akhirnya berhasil menuangkannya dalam bentuk aksara, Hunminjeongeum.


Kata "Hangeul" ditulis dalam aksara Hangeul.






Yi Sun-sin


Patung Laksamana Yi di pusat kota Seoul.


Quote:Yi Sun-sin (lahir 28 April 1545 – meninggal 16 Desember 1598 pada umur 53 tahun) adalah seorang tokoh militer dan pahlawan nasional Korea. Ia adalah tokoh yang berjasa dalam menumpas serbuan pasukan Jepang yang menginvasi dalam Perang Tujuh Tahun pada masa Dinasti Joseon. Salah satu kontribusinya yang terbesar dalam bidang militer Korea adalah penggunaan kapal perang berlapis besi pertama di dunia yang berbentuk kura-kura yang dinamakan Gobukseon.Sampai sekarang Yi dianggap sebagai seorang pahlawan bangsa Korea yang terbesar dikarenakan kesetiaan, taktik dan kegigihannya dalam berperang. Yi Sun-sin wafat dalam usia 54 tahun pada tahun 1598 tepat setelah kemenangannya dalam akhir Perang Tujuh Tahun.Dalam 7 tahun masa perang itu, Yi Sun-sin memenangkan sebanyak 23 kali pertempuran di laut tanpa kalah. Ia diberi gelar Chung Mu Gong atau Pahlawan Kesetiaan dan Pengabdian.

Kehidupan awal

Yi Sun-sin terlahir pada tanggal 28 April 1545 di Geoncheondong, Hanseong sebagai putra ke-3 dari keluarga bangsawan. Sejak kakeknya terlibat dalam pembersihan politik pada masa pemerintahan Raja Jungjong, ayahnya mulai berhenti mencari pekerjaan yang berhubungan dengan pemerintah. Mereka sekeluarga akhirnya pindah ke Asan, tempat asal keluarga ibu Yi, di saat kondisi perekonomian mereka semakin memburuk.

Layaknya anak bangsawan pada masa itu, Yi Sun-sin dididik dalam ajaran-ajaran Konghucu sejak kecil. Ia menikah pada usia 21 tahun dan dikaruniai 3 orang putra dan 1 orang putri. Ia memutuskan untuk masuk di bidang militer dimulai saat berusia 22 tahun walaupun sebenarnya pilihannya tersebut asing bagi keluarganya yang lebih memandang kesusastraan sebagai tradisi.

Pada usia 28 pada tahun 1572, Yi menjalani ujian bidang militer. Dalam ujian itu, Yi jatuh dari kuda dan kaki kirinya patah. Empat tahun kemudian setelah peristiwa itu, Yi kembali mencoba menjalani ujian tersebut, dan pada usia 32 tahun ia berhasil lulus.

Awalnya ia bertugas sebagai perwira dan dikenal akan sifat teguh dan tak kenal kompromi dalam menjalani prinsip-prinsipnya. Hal ini mengakibatkan karir awal Yi tersendat dikarenakan banyak atasan yang tidak suka dengan sikapnya yang tegas dan disiplin. Suatu hari, bahkan ia pernah dicopot dari posnya bertugas karena menolak ikut berpartisipasi dalam kegiatan atasannya yang ia anggap tidak benar. Akhirnya ia juga diturunkan menjadi prajurit kelas bawah dikarenakan fitnah seorang perwira lain yang tidak senang dengannya. Namun begitu, menjelang terjadinya awal Perang Tujuh Tahun dimana Jepang akan menyerbu Joseon, ia mendapat kenaikan pangkat sebagai Komandan Stasiun Angkatan Laut Kiri Jeolla berkat rekomendasi dari Perdana Menteri Ryu Seong-ryeong. Perdana Menteri Ryu telah berteman dengan Yi sejak kecil dan ia mengenal bakat kepemimpinan yang dimilikinya.

Setelah menjabat menjadi komandan angkatan laut, Yi bertugas membenahi Angkatan Laut Joseon dengan memperbaiki sistem administrasi, meningkatkan mutu persenjataan serta mendidik para pelaut. Ia juga menyelesaikan pengkonstruksian Kapal Kura-kura hanya satu hari sebelum Jepang mendarat.


Yi Sun-sin berperan penting dalam kemenangan Korea dalam Perang Tujuh Tahun. Perang Tujuh Tahun atau Perang Imjin merupakan serangkaian pertempuran panjang selama 7 tahun pada akhir abad ke-16 di semenanjung Korea yang disebabkan oleh invasi Jepang yang berniat menyerbu Cina melalui Korea.

Sebelum perang meletus, Dinasti Joseon di Korea mengalami kegoncangan politik dan ekonomi yang berpengaruh pada bidang militer sehingga keamanan nasional negara itu berada dalam bahaya. Pada saat yang sama, Toyotomi Hideyoshi telah mempersatukan Jepang dan merencanakan untuk melakukan invasi negara-negara tetangganya sehingga ia lebih dapat mengendalikan kekuatan-kekuatan daimyo. Pertama-tama, ia meminta izin kepada Joseon untuk memberi jalur untuk pergerakan tentaranya ke Dinasti Ming. Istana Joseon menolak niat Jepang dan mengacuhkan kemungkinan perang. Saat niatnya ditolak Joseon, Toyotomi Hideyoshi menginvasi dengan kekuatan 160.000 tentara pada bulan April 1592. Joseon tidak mampu menangkis serangan awal dan mengalami kekalahan besar. Daerah pertahanan di bagian selatan direbut dalam waktu beberapa hari saja dan pasukan Jepang bergerak ke utara tanpa mengalami kesulitan sama sekali. Karena bahaya telah mendekat ke ibukota, keluarga kerajaan mengungsi ke tempat yang lebih aman di wilayah utara. Setelah dua bulan, seluruh negeri Joseon berada dalam tangan Jepang.

Yi Sun-sin memimpin angkatan laut untuk mengamankan wilayah perairan dan untuk memutus jalur persediaan dan komunikasi tentara Jepang. Kapal-kapal Jepang menggunakan jalur laut di perairan barat dan timur Semenanjung Korea untuk menyalurkan persediaan perang kepada para pasukan yang berada di daratan. Dengan keunggulan pasukan Yi Sun-sin, semua kapal Jepang di perairan Korea berhasil dikalahkan. Beberapa pertempuran di laut benar-benar menentukan keberhasilan pasukan Korea atas Jepang, antara lain Pertempuran Hansan, Pertempuran Myeongnyang dan Pertempuran Noryang.

Pertempuran Hansan yang terjadi pada tanggal 14 Agustus, 1592 adalah pertempuran laut terbesar yang dimenangkan oleh Laksamana Yi dan juga dianggap sebagai salah satu perang laut terbesar di dunia. Pasukan Jepang yang dikirim oleh Toyotomi Hideyoshi terdiri dari 3 armada dengan 10 ribu anak buah, berkali-kali lipat dari jumlah pasukan Yi Sun-sin.

Laksamana Yi menyusun taktik untuk mengumpan Jepang agar berperang di perairan Pulau Hansan yang berada jauh dari daratan utama sehingga pasukan Yi dapat dengan leluasa melakukan penyerangan dan memperkecil kemungkinan musuh untuk melarikan diri. Pasukan Laksamana Yi dibantu oleh Laksamana Yi Ok-ki dan Won Gyun.

Laksamana Yi memerintahkan sebagian besar kapal perang untuk tetap berada di Hansan dan mengirimkan 6 buah panokseon (kapal perang beratap) menuju selat Kyonnaeryang. Kemudian panokseon bergerak menuju tempat sebelumnya di Hansan seolah-olah akan menyerah untuk menarik perhatian pasukan Jepang agar mengejar. Saat semua kapal Jepang telah berada di laut lepas, Laksamana Yi memerintahkan pasukannya membentuk hagikjin atau formasi sayap bangau untuk menyerang kapal utama musuh. Secara tiba-tiba, kapal mereka berbalik arah dan berhadapan dengan kapal Jepang. Mereka mengelilingi kapal utama dalam posisi setengah lingkaran. Gerakan ini menjebak Jepang dengan sedikit ruang untuk bergerak dan segera menghantam dengan meriam dan panah api. Sisa-sisa kapal Jepang yang selamat melarikan diri. Sebanyak 47 buah kapal musuh ditenggelamkan dan 12 lain ditawan, menyisakan 14 dari keseluruhan 73 buah kapal dan 1000 dari 10.000 orang.

Kemenangan pasukan Yi di laut membuat penyerbu di daratan terisolasi dari bantuan negerinya. Tak lama setelah perang, Pyeongyang berhasil direbut kembali atas bantuan pasukan Ming. Dua bulan setelah itu, ibukota juga berhasil direbut. Dalam bentuk penghargaan akan jasa besarnya, Yi dianugerahi kedudukan sebagai Tongjesa, pangkat tertinggi dalam angkatan laut Joseon. Kini ia memimpin angkatan laut 3 provinsi.
Konspirasi mata-mata Jepang dan pencopotan jabatan

Pada bulan Desember 1596, saat negosiasi antara Ming dan Jepang gagal, Toyotomi Hideyoshi memperbarui rencana penyerbuan ke Korea. Sementara itu, Laksamana Yi sedang mendapat masalah dikarenakan tuduhan Jendral Won Gyun dan mata-mata Jepang bernama Yoshira. Won Gyun yang selalu iri karena Yi Sun-sin selalu memiliki kedudukan lebih tinggi daripada dirinya tidak hanya sering dengan sengaja mengabaikan perintah Yi, namun juga mulai memberikan laporan palsu kepada raja tentang keadaan angkatan laut dan hasil peperangan untuk menjelek-jelekkan Yi Sun-sin. Hal itu menimbulkan spekulasi di istana.

Pihak Jepang menyadari keberadaan Yi Sun-sin akan menggagalkan tujuan mereka sehingga ia harus disingkirkan terlebih dahulu dengan cara membuat raja tidak menyukainya. Mereka mengirimkan seorang mata-mata bernama Yoshira ke dalam sebuah pangkalan militer yang dipimpin jendral Kim Eung-su dan menawarkan jasa sebagai seorang mata-mata untuk membocorkan informasi penting bagi Joseon. Ia melaporkan bahwa kedatangan Jendral Kato Kiyomasa yang sudah tak lama lagi. Namun, Yoshira meminta agar Tongjesa (Yi Sun-sin) yang menghadapi armada Jepang itu.

Jendral Kim percaya pada apa yang disampaikan Yoshira dan memohon kepada Raja Seonjo untuk mengirimkan Laksamana Yi Sun-sin menghadapi kedatangan musuh. Raja memerintahkan Yi dan pasukannya untuk bergerak. Namun, Laksamana Yi menolak permintaan raja karena mengetahui bahwa lokasi dimana ia diperintahkan untuk berperang sangat berbahaya karena dipenuhi gosong karang dan kemungkinan besar akan mengalami kekalahan. Saat perintahnya ditolak, Raja Seonjo marah besar dan menganggap Laksamana Yi congkak. Yi kemudian dipenjara di ibukota dan mendapat siksaan. Raja menginginkannya dihukum mati, namun para pendukung Yi di istana memohon untuk membebaskannya dengan alasan pada masa lalu jasanya sangat besar bagi negara. Lolos dari hukuman mati, Yi dicopot dari jabatan Tongjesa menjadi prajurit bawahan.

Won Gyun merasa senang karena naik pangkat menjadi Tongjesa menggantikan Yi Sun-sin. Namun Won Gyun tidak cakap mengendalikan masalah-masalah bahari dan bersikap acuh terhadap pekerjaan mengelola angkatan laut. Sementara itu, Yoshira masih terus memengaruhi Jendral Kim Eung-su untuk mengirimkan pasukan menghadapi armada Jepang, yang ia kabarkan sudah tiba di Korea. Setelah perintah diberikan, Won Gyun mulai mengerahkan kapal perang. Hasilnya sangat buruk karena ia tidak bisa mengendalikan jalannya kapal sehingga armada Jepang menang. Karena panik, Won Gyun melarikan diri ke darat dan sampai disana ia dibunuh oleh pasukan Jepang yang telah menunggunya. Kekalahan ini adalah kehancuran armada laut satu-satunya dalam pertempuran laut Perang Tujuh Tahun. Dari 134 kapal perang yang dikerahkan, hanya 12 yang selamat di bawah kendali Komandan Bae Sul.

Mendengar kekalahan Won Gyun, raja menyesali keputusannya dan kembali mengangkat Yi Sun-sin menjadi Tongjesa. Walau telah mengalami perlakuan buruk dan bahkan bersedih karena baru-baru itu ibunya meninggal dunia, Yi Sun-sin menerima penugasan itu dengan siap. Yi melakukan perjalanan di propinsi Jeolla untuk mengumpulkan kapal, pengungsi dan senjata yang tersisa sebelum menghadapi musuh.

Raja Seonjo mengetahui kesulitan yang dialami Yi Sun-sin yang hanya mendapatkan 13 buah kapal dan menyarankan Yi untuk berhenti berperang di laut dan bergabung dengan angkatan darat. Namun, Yi meyakinkan bahwa ia memiliki alasan kuat untuk melindungi perairan di kawasan Jeolla dan Chungcheong guna mencegah penerobosan Jepang dari jalur laut ke ibukota.

Dengan kondisi terjepit karena pasukan musuh berjumlah besar, pasukan Yi Sun-sin memutuskan untuk bergerak ke Selat Myeongnyang. Myeongnyang adalah selat yang harus dilewati musuh untuk mencapai ibukota. Daerah ini memiliki arus paling deras di Semenanjung Korea yang mencapai 18 km/jam dikarenakan aliran dari laut lepas terdorong ke dalam selat yang sempit. Di selat ini, Yi Sun-sin memasang jebakan bawah air berupa kawat besi yang dapat diputar menggunakan kapstan, sejenis as roda yang digunakan di kapal. Hal itu untuk menggoyahkan dan membuat mereka saling bertabrakkan pada saat arus deras terjadi. Kapal Joseon mempunyai dasar berbentuk datar dan dangkal, sementara kapal Jepang berdasar tajam dan dalam yang akan tersangkut jebakan yang dipasang di bawah air.

Pada tanggal 16 September 1597, armada Jepang tiba dengan 330 kapal. Ketigabelas kapal Laksamana Yi menghadapi musuh dengan menggunakan formasi Iljajin (formasi satu garis). Iljajin adalah salah satu bentuk formasi yang paling sederhana, terdiri atas sekelompok kapal yang berbaris satu-satu dengan haluan menghadap ke arah musuh. Walau begitu, armada Laksamana Yi tidak bisa dengan bebas melakukan gerakan yang lebih bervariasi karena jumlah musuh terlalu banyak. Berkat sempitnya selat Myeongnyang, hanya 130 kapal Jepang yang dapat masuk. Dalam waktu sebentar, mereka sudah mengelilingi pasukan Yi. Para kapten kapal dan Laksamana Yi maju menyerang ke gerombolan musuh sendirian dengan menembakkan panah dan meriam. Tiba-tiba, di dekat kapal Laksamana Yi terlihat mengapung mayat musuh yang ternyata adalah Matashi Kurushima, jendral pasukan Jepang. Mayat itu ditarik dan diperlihatkan ke arah musuh dari haluan. Hal tersebut mengakibatkan kegemparan di antara mereka.

Pada saat itu, arus mulai menjadi deras karena alaminya mengalami pergantian arah setiap 4 jam sekali. Kekuatan aliran mulai menggoyahkan kapal-kapal Jepang dan merusak posisi mereka. Pasukan Yi mengencangkan kawat besi di bawah air dengan memutar kapstan. Lambung kapal mereka mulai tersangkut dan mulai bertabrakkan satu sama lain. Sementara, pasukan Yi terus menggempur. Dari 130 kapal Jepang yang masuk ke Selat Myeongnyang, 31 tenggelam dan 90 rusak parah dan tak satupun kapal pihak Laksamana Yi kalah. Dalam buku hariannya, Laksamana Yi mencatat bahwa ia bersyukur atas kemenangan yang ia anggap sebagai mukjizat.


Invasi kedua Jepang yang terjadi pada tahun 1597 sekali lagi dapat dipatahkan oleh kekuatan pasukan Laksamana Yi di laut. Bantuan Cina juga berperan besar dalam menentukan akhir perang selain pesan Hideyoshi pada bulan Agustus tahun berikutnya yang memerintahkan untuk menarik semua pasukan Jepang dari Korea. Pada pertempuran ini Laksamana Yi menghadang kepulangan Jepang dengan bantuan angkatan laut Ming yang dipimpin Chen Lien.

Dalam pertempuran tahap awal, armada Jepang dipukul mundur dengan 50 buah kapal dihancurkan sehingga mereka melarikan diri ke Kwaneumpo namun telah dijebak pada tiap sisi. Karena tak ada pilihan lain, mereka berbalik dan melawan. Mereka mengincar kapal utama yang dikemudikan Laksamana Yi. Baik Yi dan Chen Lien berkali-kali dalam bahaya karena hampir terkurung namun keduanya berhasil menghindar.

Saat sedang meneriakkan perintah maju, Laksamana Yi tertembus peluru dari kapal musuh dan terluka parah. Ia meminta anak buahnya menutupi tubuhnya dengan perisai dan merahasiakan kematiannya dari pasukan lain agar mereka tidak terkejut. Yang menyaksikannya menghembuskan napas terakhir adalah putra sulungnya, Hoe, dan keponakannya, Wan. Sambil menahan kesedihan mereka meneruskan pertempuran. Kemenangan armada laut di Pertempuran Noryang ditandai dengan hancurnya 450 buah kapal Jepang dan sisanya kabur. Perang ini menandakan akhir dari Perang Tujuh Tahun.



Dua persenjataan andalan Joseon pas berhasil meredam invasi Jepang ke Semenanjung Korea di abad ke-16 :


1. Kereta penembak misil hwacha
Spoilerfor hwacha:


2. Kapal kura-kura geobukseon
Spoilerfor geobukseon: